Just another WordPress.com weblog

Bayang Bayang

Si Dali bukan orang biasa. Sudah jadi tokoh. Bahkan tokoh luar biasa. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara. Karena pelakon Julius Casar, atau King Lear, atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung. Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu.Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Kata orang, Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalamkegelapan. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang, penuh cahaya. Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Bayang- bayang yang banyak. Ada yang pendek ada yang panjang, ada yang gemuk ada yang kurus. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena memang bayang-bayang itu bayang- bayangnya sendiri. Sebagai bayang-bayang, bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. Baik Si Dali makan atau tidur, jalan-jalan atau berzina.

Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Dan Si Dali yakin benar, bayang- bayang itu ada karena dia.

Tanpa dia, bayang-bayang itu semua sirna. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sangat memerlukannya. Berbeda dengan orang lain, yang tidak pernah peduli dengan bayang- bayangnya sendiri. Karena mereka suka hidup bergelap-gelap di tempat gelap. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting. “Bayangkan”, kata Si Dali pada bayang- bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: “Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang, selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?”

Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Karena peniruan tidak merugikannya. Bagaimana pun persisnya peniruan itu, satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang, yaitu serba kenikmatan yang

diregup Si Dali. “Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan, tapi jangan coba-coba

berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Karena serba kenikmatan bukan

hak kalian. Itulah adalah aksioma.”

Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana.

Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya.

“Benar, Paduka.” jawab perdana menteri, yang tahu benar kemana ujung ceritanya.

“Bunuh dia.” perintah raja.

Setelah merenung perdana menteri berkata: “Apa Paduka tidak ingin melihat lebih

dulu macam apa Si Dali itu?”

“Kalau begitu tangkap dia. Bawa kesini.” kata raja. “Membunuh dan menangkap orang

memang kekuasaan Paduka. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap, dia akan jadi lebih

besar dari kadarnya. Dia akan menjadi mitos sejarah. Dengan mitos itu rakyat terbius

untuk berdemonstrasi. Bayangkan, Paduka. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan

main.”

“Maksudmu?”

“Undang dia. Rangkul dia. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali.”

“Kalau begitu undang dia. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top.” kata

raja.

Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga

kehormatan negara. Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau

Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang

panjang dari akal. Maka dia akan menolaknya. Demikianlah ketika Si Dali sampai di

istana, dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat

tonggeng seperti penari jaipong. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Raja

dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada, bahkan

sampai ke perut buncitnya. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Begitu megah

dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang

dili- hatnya di televisi.

Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu, tidak memberi bayang-bayang pada

raja. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masing-

masing. Itulah bayang-bayang raja, pikir Si Dali. Tiba-tiba seluruh lampu meredup.

Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang.

Bayang-bayang mengiringi. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Si Dali

membungkuk ketika bersalaman. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat

bayang-bayang ratu. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Si Dali memandang

berkeliling. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam, yang seperti

menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Ketika semua lampu menyala

kembali, Si Dali tidak melihat bayang- bayangnya. Bayang-bayang ratu pun tidak.

Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya. Dan ketika dia menyalakan

lampu di ruang tamunya, dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk

mengalai di sofa.

“Kamu bukan bayang-bayangku.” kata Si Dali. “Mestinya kamu bersama raja. Mengapa

kamu di sini?”

“Aku kesal. Muak. Sakit hati. Raja punya banyak bayang-bayang. Semuanya berlidah

panjang. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya, tidak diperdulikan lagi.” kata

bayang-bayang raja itu.

“Terus?”

“Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang- bayang ratu, sehingga kamu

kehilangan bayang-bayang kamu sendiri, aku pikir kebih baik aku ikut kamu. Karena

kamu toh perlu bayang-bayang. Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak

punya bayang-bayang.” kata bayang-bayang itu.

Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia

kebanyakan. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang

raja. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia. “Kamu ingin jadi

bayang-bayang raja?” tanya bayang- bayang itu.

“Oh, tidak. Sampai mati pun aku tidak mau. Aku cuma mau menyamar jadi kamu.

Selama satu hari saja. Oke?”

“Oke.”

Sebagai bayang-bayang, Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis

pengawalannya. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragam-

ragam disain dalam istana itu. Semua megah, bahkan spektakuler. Ada ruang seperti

yang ditemui dalam film Star Trek. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of

Pompeye. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali.

***

Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang- bayang raja memasuki Ruang

Sidang Kabinet, kabinet lagi bersidang dibawah pimpinan perdana menteri. Persis di

waktu perdana menteri sedang berkata: “Nah, Tuan-Tuan sudah tahu, macam apa

tokoh yang bernama Si Dali. Dia krempeng seperti Nashar. slebor seperti Affandi.

Matanya melotot seperti…..seperti…..siapa, ya?” Sejenak dia terdiam ketika ingat

pada seorang presiden, yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Selanjutnya katanya

lagi: “Ya, seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis. Dia jadi tokoh karena

sering, sangat sering, dipublikasi oleh pers dan televisi. Pidato atau khotbah atau

ucapannya se- ring dikutip, puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra

dan musik. Apa tidak begitu?”

“Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. Makanya tidak bisa

dibandingkan dengan raja. Raja tetap jadi raja, meski tidak ada publikasi.” kata

seorang menteri.

“Baiknya, larang saja pers dan televisi mempublikasikannya.” usul menteri yang lain.

“Larang-melarang itu sudah kuno. Tidak cocok dengan semangat reformasi.” kata

perdana menteri pula.

“Kalau begitu, imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?” usul yang lain

lagi mengusul.

“Seperti kita semua tahu, raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk

dipublikasikan. Apa pantas raja sedang makan, sedang tidur dipublikasikan?”

“Sekali lagi saya peringatkan. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja.

Raja tidak makan, tapi santap. Tidak tidur, tapi beradu. Tidak sakit, tapi gering. Tidak

minum, tapi dahar. Tidak berbaju, tapi…..Tapi apa, ya? kata perdana menteri dengan

sedikit keras.

“Kalau begitu raja tidak akan pernah mati, ya?” bisik seorang menteri kepada rekannya

di sebelah kiri.

“Memang. Tapi wafat,” jawab yang ditanya.

“Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno,

seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk

menamakan bangunan baru yang disakralkan,” kata menteri yang duduk di kanan

menyela.

“Jadi masalah Si Dali itu apa, sih?” tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal

dengan segala asesori tanda jasanya.

“Si Dali terlalu termasyhur. Populer. Lebih dari raja.” jawab perdana menteri. “Itu

membahayakan kredibilitas kerajaan.”

“Raja sendiri berpendapat apa?”

“Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk

berpikir.”

“Nah, kalau raja sendiri tidak perduli, kenapa kita ribut?”

“Apa kata dunia internasional, apabila raja sudah begitu, tapi para menteri diam saja?

Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok,” kata perdana menteri

dengan nada yang agak tajam.

Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan, Si Dali

melompat ke tengah ruangan. Katanya setengah berteriak: “Kabinet macam apa ini.

Bicara tentang kepentingan diri sendiri. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap

tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan.

Setiap waktu kena peras, kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum

bersenjata. Keadilan dimafia aparat, sejak polisi sampai jaksa, terus ke hakim.

Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui.”

Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh. Mereka masih terus berbicara dengan

sesamanya. Padahal menurut Si Dali, dia telah bicara setengah berteriak sambil

mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya

yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. Dengan berlari kencang dia kembali

ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. Untuk kembali

menjelma ke jati dirinya sendiri.

Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: “Bayang- bayang tetap bayang-bayang.

Meski bayang-bayang raja sekalipun, tidak ada yang hirau. Para menteri raja pun tidak

hirau. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang, apa peduliku. Tapi pada

bayang-bayang raja ini ada aku. Mengapa mereka tidak peduli?”

Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. Kadang-kadang dia bertanya,

kadang-kadang mengomel. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah.

Akhirnya dia marahi dirinya sendiri, yang mau menyamar sebagai bayang-bayang,

meski bayang-bayang raja. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. Di bawah

naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. Dalam

renungannya kian menjadi jelas baginya, bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi

bayang-bayang. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Kalau raja mati, meski

bayang-bayangnya tidak ikut dikubur, dia tidak lagi berfungsi. Yang berfungsi ialah

bayang-bayang raja pengganti. Bayang-bayang raja lama lenyap. “Kalau saat ini raja

pemilik bayang-bayang ini mati, apa jadinya aku?”

Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya, Si Dali berteriak keras: “Aku

tidak mau lenyaaap. Tidak mau lenyaaap.”

***

Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. Di dalam semuanya hitam. Tidak

satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. Tapi dia tahu persis letak sesuatu

benda atau ruang demi ruang. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. Meski

tersenggol, oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser, apalagi merusak. Maka

dia langsung menghambur ke kamar tidurnya, yang ketika pergi dulu sebagai bayang-

bayang raja. dirinya lagi mengalai di ranjang.

Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke

seluruh ruang yang gelap itu. Betapa seluruh ruang telah diarungi, betapa lama waktu

dalam menyigi, dia tidak menemui dirinya. Simpul hatinya, dirinya yang dipakai

bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang

nyata. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudut-

sudut yang kumuh pun dia cari. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. Entah

berapa hari, entah berapa malam.

Akhirnya, ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya, dia melihat seorang

laki-laki kere. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat

kota. Laki-laki itu kurus kerempeng. Lusuh dan mengenas- kan. Laki-laki itu tidak lain

dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Sebagian hati Si Dali demikian gembira

karena telah menemukan kembali jati dirinya. Tapi sebagian lain hatinya demikian

risau. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. Tak obahnya seperti lusuh baju

dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri. Sampai dia ragu sejenak, apa memang itu Si

Dali yang sosok paling populer di masa itu.

“Hai, Dali. Kemana saja kamu. Berhari-hari aku telah mencarimu.” kata Si Dali pada

dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu.

“Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia. Aku kira meski

aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. Tapi tidak satu pun nikmat yang

aku dapat.” kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. “Kemudian aku

yakin, bahwa aku hanya bayang-bayang. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang

utuh. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali, agar aku bisa hidup

menurut kodratku sendiri. Berhari-hari aku mencari kamu. Kemana saja kamu?”

“Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi.” kata Si Dali.

“Terlambat sudah.”

“Terlambat?”

“Raja sudah Wafat. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. Bagaimana

aku kembali jadi diriku, sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi

apa aku dengan tubuhmu. Tidak akan jadi apa-apa, tahu?” kata bayang-bayang raja

yang mamakai jasad Si Dali. Terasa mengenaskan suaranya.

“Ayo, kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi.” kata Si Dali.

“Aku mau. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang- bayang raja karena raja sudah

wafat.”

“Artinya?”

“Tidak mungkin itu. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri.

Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana.”

“Maksudmu?”

“Ya, setiap bayang-bayang berbakat demikian.”

“Aku tidak perlu bayang-bayang. Aku hanya perlu diriku sendiri.”

Lawan Si Dali menggelengkan kepala. “Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayang-

bayang.”

“Sekarang aku ini jadi apa?” tanya Si Dali yang bayang- bayang.

“Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu.” kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali.

Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana

entah sampai apabila dan hingga kemana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s